.comment-link {margin-left:.6em;}

Ikatan Cendikiawan Patah Hati

One for All... All for One!

Dilbert Pearls Before Swine

Tuesday, March 29

Cerpen Perjalanan

Jam 05.00 pagi. Ah, penat sekali rasanya badanku, enggan aku beranjak dari tempat tidur. Ingin rasanya bermanja-manja dengan bantal guling, meneruskan tidurku sampai jam sembilan. Tapi tak mungkin, aku harus bangun dan memulai hidup hari ini.
Setelah sholat subuh, sejenak terpikir untuk tidur lagi. Kucoba usir jauh-jauh godaan setan itu. Kubuka pintu depan dan melangkah ke halaman, setelah jalan memutari halaman beberapa kali dan sedikit senam, aku langsung mandi dan berpakaian. Setelah sempat bingung memilih baju, akhirnya pilihan jatuh pada kaos bola satu-satunya kesayanganku, ya, kaos Tim Inggris.
Jam 06.00 aku berangkat. Tak seberapa macet pagi ini, tak seperti biasanya. Mungkin orang-orang terkena penyakit malas bangun pagi, seperti yang hampir menyerangku pagi ini. Seperti biasa, Si Angkot Biru telah menunggu di pertigaan. Masih kosong, aku naik dan langsung duduk di pojok belakang. Seorang anak SMA naik dan duduk di depanku, perempuan. Rambut hitam sebahu, kulit coklat sedikit legam, mirip sekali dengan adikku. Sebuah buku tergenggam di tangannya, "Biologi untuk SMU Kelas 2", begitulah kira-kira judul bukunya. Sejenak aku teringat masa-masa SMA, dulu aku juga mengambil jurusan Biologi, satu pelajaran yang sebenarnya aku tak begitu suka. Aku lebih suka Fisika, tapi karena standar nilaiku tak mencukupi, aku dengan terpaksa mengambil jurusan itu.
Jam 06.30 sampai aku di Pondok Labu. Macet. Hanya satu kata yang bisa melukiskan tempat itu. Kebetulan memang ada pasar tradisional di situ, selalu rame. Di tambah lagi dengan angkot-angkot dan tukang ojek yang parkir sembarangan. Aku terpaksa turun, uang seribu limaratus rupiah aku sodorkan ke Abang Supir. Aku harus berjalan satu kilo meter lagi untuk naik angkot yang kedua, ke Cilandak. Sebenarnya aku bisa langsung naik di dekat pasar itu, tapi pasti terjebak macet lagi. Setelah menunggu lima menit, sebuah angkot yang masih kosong lewat di depanku. Aku duduk di kursi depan, di belakang, anak-anak sekolah berebut naik, kebanyakan perempuan. Gaduh sekali mereka. Di depan seorang anggota polisi berseragam lengkap sepertinya mau naik. Benar juga, tanpa basa-basi atau permisi, dia membuka pintu depan dan langsung duduk di sebelahku. Kakiku terinjak. Aku berharap dia minta maaf, atau sedikit tersenyum, atau basa-basi. Tapi, dengan wajahnya yang dibuat-buat seram, dia tak bergeming sedikitpun. Ah, sombong sekali bapak polisi kita ini. Mungkin dia merasa lebih tinggi dan lebih penting dari orang sipil sepertiku. Atau dia merasa lebih tua dariku, jadi tak perlu minta maaf atau sedikit bersopan santun. Ah, bapak Polisi, bukannya seharusnya yang lebih tua memberi contoh yang baik pada kami yang masih muda-muda ini. Bukannya seharusnya Bapak menjadi pengayom dan pelindung masyarakat. Ya sudahlah, mudah-mudahan dia hanya sedang merasa kesal sehingga sulit baginya untuk tersenyum atau sedikit berbasa-basi. Mudah-mudahan tak semua polisi sepertinya. Jam 06.45, di dekat lampu merah pak polisi tadi turun. Kembali tanpa bilang terima kasih atau sedikit basa-basi. "Dasar keong! Memangnya mobil nenek moyangnya apa!", Si Abang mengumpat. Aku hanya tersenyum.
Jam 07.03, sampai aku di Cilandak. Sambil menyodorkan uang seribu limaratus rupiah, aku turun, "Santai aja Bang!", aku coba sedikit menghibur si Abang. Dia hanya mengangguk tanpa ekspresi.
Kopaja 20 jurusan Lebak Bulus-Senen telah menanti. Aku naik, tak ada tempat duduk kosong. Terpaksa berdiri, mudah-mudahan di depan nanti ada yang turun. Benar juga, di pertigaan Mangga Besar beberapa orang turun. Lumayan, dapat duduk di dekat pintu, sedikit kena angin, jadi tak terlalu panas. Tak berapa lama, bis berhenti, seorang bapak berpakaian rapi naik dan langsung duduk di sebelahku. Dari perawakannya, sepertinya dia seorang polisi atau tentara. Bis kembali jalan, di depan terlihat macet sekali, untunglah aku sudah mendapat tempat duduk. Menjelang tanjakan, bis berjalan agak sedikit menepi, kulihat sebuah motor tiba-tiba oleng dan jatuh di sebelah bis. Bis pun berhenti. Si Pengendara melepas helmnya dan langsung naik ke bis menghampiri supir. "Hey Monyet! Liat-liat dong kalo bawa kendaraan, jangan kau serempet orang sembarangan. Mana SIM loe, STNK? Gue Polisi!, mana cepat loe keluarin!". Si Abang terlihat ketakutan, tapi masih coba menjawab, "Pak, Saya tidak menyerempat Bapak, Bapak saya liat jatuh sendiri koq!". Si Pengendara motor tadi tambah naik pitam, "Berani loe ya ngelawan Petugas, mana sini cepat loe kasih SIM ama STNK loe!". Dengan pasrah, Si Abang pun membuka tas kecil di depannya dan memberikan surat-surat yang diminta. "Loe, ntar loe ambil surat-surat ini di Polsek, loe cari gue, Suparman!". Polisi itu pun turun, diikuti Si Abang. Di luar, terlihat mereka kembali bersitegang. Bapak-bapak yang duduk di sebelahku terlihat gusar. "Begitu tuh, Polisi jaman sekarang, kerjanya memeras rakyat kecil. Kecewa saya, kecewa saya!". Lama sekali Si Polisi dan Si Abang Sopir berdebat, aku mulai gusar juga. "Wah, ini tak bisa dibiarkan!", aku berujar kepada Si Bapak dan bermaksud turun dan mencoba membantu memecahkan masalah. Di belakang, suara klakson mobil mulai rame. Jalanan menjadi semakin macet. "Jangan!, Anda duduk aja di sini!", Si Bapak melarang aku untuk turun. Dia pun segera beranjak turun dan menghampiri mereka. Aku mengikutinya dari belakang. Dia langsung menghampiri Si Polisi tadi. "Hei, kamu! Sini kamu!", dengan nada tinggi dia memanggil Si Polisi. Dia mengambil dompet di sakunya dan mengeluarkan sesuatu. "Saya anggota TNI, saya Kolonel!", hardiknya sambil menunjukan kartu pengenal yang barusan diambil dari dompetnya. "Saya malu, saya malu dengan tingkah laku kamu! Saya lihat dengan mata kepala sendiri, motor kamu jatuh sendiri. Tak ada yang menyerempet!". Kulihat wajah Si Polisi langsung berubah, yang tadinya garang bagaikan singa gunung, sekarang terlihat ciut dan mendundukan kepalanya. Hahaha...ingin rasanya aku tertawa sekeras-kerasnya. "Saya malu, malu sekali. Kita ini seharusnya melindungi mereka, mereka rakyat kita!" Kembali Pak Kolonel menceramahi Si Polisi. "Ya Pak, Ya Pak!" Hanya kata-kata itu yang terdengar dari mulutnya. "Mana sini, KTP kamu, cepat! Atau mau saya tembak kamu! Kamu ini beraninya cuman sama rakyat kecil, kalo kamu berani hayo ikut saya ke Aceh! Di Aceh orang-orang seperti kamu lari terbirit-birit!". Pak Kolonel terlihat semakin marah. Selembar KTP disodorkan Si Polisi. "Kamu, kamu ambil nanti ini KTP di Marinir situ! Sekarang kamu pergi, cepat!". "Siap Pak!", Si Polisi terlihat semakin takut dan langsung menyalakan motornya pergi.
"Aduh, terima kasih sekali Pak, kalo tak ada Bapak saya nggak tahu nasib saya", ujar Si Abang sambil sedikit membungkuk. Surat-surat yang tadi disita, sekarang sudah kembali di tangannya. "Nanti kalo dia macam-macam lagi, bilang Saya!", ujar Pak Kolonel. "Ya Pak, terima kasih banyak Pak!".
Kamipun kembali melanjutkan perjalanan.

Di dekat POM Bensin ada seorang gadis naik. Tak cantik, tapi dandanannya yang mencolok sudah pasti menarik perhatin pria. Tak ada tempat duduk kosong, diapun berdiri di dekatku. Kulihat laki-laki yang tadi berdiri di dekatku, bergeser dan memberi tempat. Taruhan 1 Milyar, dia pasti mencoba berkenalan.
Benar juga, tak berapa lama:
"Mba, anak Perbannas ya?". Sejurus kata perkenalanpun dilontarkan.
"Ya mas!".
"Semester berapa? kenal Ria nggak?".
"Ria, Ria angkata berapa ya Mas?"
Aku yakin, si Mas tadi hanya mengarang cerita.
"Ria, Ria yang rumahnya di buncit situ, kalo nggak salah angkatan dua ribuan gitu."
"Wah, maaf mas, aku nggak kenal."
"Udah dapet mata kuliah Trading belum, yang kaya Forex, Bursa-bursa gitu?"
"Udah mas."
Mereka kembali terdiam. Kulihat, Si Mas sibuk membuka-buka tasnya dan buku agendanya. Pasti sedang mencari kartu nama. Benar juga, tak berapa lama dia sodorkan selembar kartu namanya.
"Mba, maaf sapa namanya? Ini kartu nama saya. Nanti kalo perlu apa-apa, skripsi misalnya, hubungi saya aja. Nomer HP nya ada di belakang!".
Aku tak mendengar nama yang diucapkan anak Perbannas tadi.
"Makasih ya Mas Joy!".
"Ya, jangan ragu-ragu ya. Saya mesti turun nih sekarang, I'll wait for your call!".
"Ya mas Joy, makasih banyak ya...".
Si Mas Joy pun turun sambil melambaikan tangannya.

Coba, tadi aku taruhan pasti aku sudah lebih kaya 1 Milyar. Satu Milyar, melihatnya pun aku belum pernah. Mungkin kalo ditumpuk sampai setinggi dua meter uang seratus ribuan. Satu Milyar, aku bisa melunasi kredit-kredit, membeli rumah, motor yang aku idam-idamkan. Mungkin mobil, tapi kasihan Jakarta sudah terlalu banyak mobil. Mungkin aku mentraktir teman-temanku.
Kalau mereka bertanya darimana aku dapat uang itu, mungkin aku akan menjawab, "Aku menemukannya di halaman rumahku pagi ini, mungkin Tuhan menjatuhkannya semalam. Ada secarik kertas di sampingnya, 'Untuk hamba-KU yang selalu mengingatku'". Ah, tapi sepertinya uang ini bukan untukku, aku bukan hamba-Nya yang selalu mengingat-Nya. Tapi biarlah aku ambil, nanti kalau Tuhan bertanya aku bilang saja, "Tuhan, aku pinjam dulu ya uangMu, nanti aku bayar dengan selalu mengingat-Mu, menjalankan segala perintah-Mu dan menjauhi segala larangan-Mu. Please, Tuhan!".
Sepertinya kejadian itu hampir pasti tak mungkin dan terlalu berat buatku untuk memenuhi janjiku kepada Tuhan, jadi mungkin lebih baik aku bilang kalau aku baru saja ikut kuis Who Wants To Be A Millionaire di sebuah stasiun TV dan menang Satu Milyar, jauh lebih banyak dari hadiah yang didapat salah seorang temanku.

"Hey teman, kapan hendak kau traktir awak..................?"

3 Comments:

Blogger kutubusuk said...

seru bener sih.. ini jakarta apa medan, bang? xD

3/29/2005 10:10:00 PM  
Blogger nuuul said...

ada bakat bikin cerpen juga nih si mas :)

3/30/2005 02:49:00 PM  
Blogger jual beli mobil motor bursa iklan mobil motor said...

Ingin menjual atau membeli mobil & motor dengan cepat ? kunjungi

MOBILMOTORMALL.COM - Jual Beli Mobil Motor - Bursa Iklan Mobil Motor - Info Harga Mobil Motor

8/23/2007 05:13:00 PM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home