.comment-link {margin-left:.6em;}

Ikatan Cendikiawan Patah Hati

One for All... All for One!

Dilbert Pearls Before Swine

Thursday, March 31

Some Leave

I'm supposed to be on leave ... but I've been troubleshooting this f****** Exchange installation on the phone since 11 ... BUHUMBUG!!

eseutil /p
eseutil /d
isinteg -fix

let's see what happens ...

Baru Nyobain EOS 3 nih.....

The EOS 3 SLR camera takes EOS speed and performance one step further and also includes the world's first area auto focus system. A good choice for both advanced amateurs and professionals.


Features

  • CMOS AF sensor with wide-area 45-point AF
  • Eye-control
  • Maximum continuous shooting speed of 7 fps
  • E-TTL/A-TTL/TTL autoflash metering with speedlites
  • 18 custom functions

The EOS 3 incorporates the world's first area AF system, a high precision focusing system, higher speed eye-control and improved high-speed focus tracking


The advanced camera technology of the EOS 3 further improves on the speed and performance for which the EOS range is renowned.

45 focusing points
The EOS 3's ground-breaking area AF system uses 45 focusing points for accurate subject capture. The seven focusing points at the centre are high precision cross type sensors for f2.8 lenses, or faster, while the other 38 are sensitive to horizontal lines at f/5.6. Even with an f/4 or faster lens, the centre focusing point works as a cross type focusing sensor, greatly enhancing the prospect of capturing the desired subject. Any one of the 45 focusing points can be easily selected using a button and dial operation with the selected point superimposed in red in the viewfinder. The seven metering methods the EOS 3 offers are compatible with the area AF system.

7fps
The new power drive booster allows seven frames per second shooting with both predictive AF and AI Servo AF. The EOS 3 built-in motor drive enables shooting up to 4.3fps with low noise.

Fast auto focus and eye control
A 32-bit microcomputer allows faster auto focusing and gives the user rapid and precise eye control operation through pupil edge detection. The viewfinder has also been improved by the addition of an eye-controlled indicator and a high-speed sync indicator. The result is greater control for the user.

Metering system
The EOS 3 has seven metering methods compatible with the area AF system:

1 .21 zone evaluative metering linked to the focusing points
2. Partial metering at centre (8.5% of viewfinder screen)
3. Spot metering at centre (2.4% of viewfinder screen)
4. Spot metering linked to focusing point
5. Centreweighted and average metering
6. Preflash metering and off the film TTL
7. Multi spot metering is possible for up to 8 points

Shutter speed
The EOS 3 features a advanced rotary magnet-controlled ultra-fast shutter for speed ranges of 30sec to 1/8000 sec. Shutter speeds are electronically regulated for the greatest possible accuracy.

Easy operation
With similar operation to that of the EOS 1N, the EOS 3 contains an illuminated LCD panel, displaying camera settings at a glance, including a remaining frame counter. Up to 18 preset functions can be preset for enhanced flexibility.




Wednesday, March 30

CeBul

Weh ... di kantor gue jadi ada cewek bule ...

Tuesday, March 29

Tammy

"Tammy", it's my English name.
Begitu kata si Tammy, gadis Thailand yang mempesona. Doi seorang marketing staff salah satu partnernya perusahaan tempat gue kerja. Tinggi, lebih tinggi dari gue, rambut ikal sedikit pirang, body langsing, pipi merah merona x)
Anaknya asyik banget, hari pertama gue ke kantornya, doi inilah yang "menyambut".
"Are you a moslem, do I have to take you to a 'Halal Restaurant?"
"Yes, I am."
Gebleg, gue bingung juga nih kalo hari pertama udah diajak 'kencan', hehe.
Akhirnya dengan sedikit berat hati, gue bilang aja gue mau makan ikan aja deh. Terus doi menemani ngajak gue ke tempat makan di belakang kantor, food court. Kebetulan ada satu counter yang cuman jualan seafood.
"Are you OK with the food?"
Gue bilang aja, "This is nice, remind me of home, my mom used to cook this kind of food. I think I like it."
Selesai makan, gue dibeliin buah, terus doi nganter gue sampe ruangan tempat gue kerja. Setelah ngobrol ngalor ngidul gak karuan, "Well, I gotta go for meeting. See you later Joe!"
Joe, ya itu nama gue di sana, orang sana pada kesusahan nyebut nama gue, jadi gue bilang aja, "Just call me Joe or whatever."
Besoknya, gue tunggu-tunggu, si doi gak keliatan ujung jempolnya.
Besoknya lagi, doi gak nongol juga. Hm..gak tahunya, doi katanya lagi ada training di luar, seminggu lagi baru balik. Oh no, artinya gue gak bisa ketemu doi lagi, gue mesti balik empat hari lagi.
Kecewa.

duh, enaknya jadi pembalap...

Cerpen Perjalanan

Jam 05.00 pagi. Ah, penat sekali rasanya badanku, enggan aku beranjak dari tempat tidur. Ingin rasanya bermanja-manja dengan bantal guling, meneruskan tidurku sampai jam sembilan. Tapi tak mungkin, aku harus bangun dan memulai hidup hari ini.
Setelah sholat subuh, sejenak terpikir untuk tidur lagi. Kucoba usir jauh-jauh godaan setan itu. Kubuka pintu depan dan melangkah ke halaman, setelah jalan memutari halaman beberapa kali dan sedikit senam, aku langsung mandi dan berpakaian. Setelah sempat bingung memilih baju, akhirnya pilihan jatuh pada kaos bola satu-satunya kesayanganku, ya, kaos Tim Inggris.
Jam 06.00 aku berangkat. Tak seberapa macet pagi ini, tak seperti biasanya. Mungkin orang-orang terkena penyakit malas bangun pagi, seperti yang hampir menyerangku pagi ini. Seperti biasa, Si Angkot Biru telah menunggu di pertigaan. Masih kosong, aku naik dan langsung duduk di pojok belakang. Seorang anak SMA naik dan duduk di depanku, perempuan. Rambut hitam sebahu, kulit coklat sedikit legam, mirip sekali dengan adikku. Sebuah buku tergenggam di tangannya, "Biologi untuk SMU Kelas 2", begitulah kira-kira judul bukunya. Sejenak aku teringat masa-masa SMA, dulu aku juga mengambil jurusan Biologi, satu pelajaran yang sebenarnya aku tak begitu suka. Aku lebih suka Fisika, tapi karena standar nilaiku tak mencukupi, aku dengan terpaksa mengambil jurusan itu.
Jam 06.30 sampai aku di Pondok Labu. Macet. Hanya satu kata yang bisa melukiskan tempat itu. Kebetulan memang ada pasar tradisional di situ, selalu rame. Di tambah lagi dengan angkot-angkot dan tukang ojek yang parkir sembarangan. Aku terpaksa turun, uang seribu limaratus rupiah aku sodorkan ke Abang Supir. Aku harus berjalan satu kilo meter lagi untuk naik angkot yang kedua, ke Cilandak. Sebenarnya aku bisa langsung naik di dekat pasar itu, tapi pasti terjebak macet lagi. Setelah menunggu lima menit, sebuah angkot yang masih kosong lewat di depanku. Aku duduk di kursi depan, di belakang, anak-anak sekolah berebut naik, kebanyakan perempuan. Gaduh sekali mereka. Di depan seorang anggota polisi berseragam lengkap sepertinya mau naik. Benar juga, tanpa basa-basi atau permisi, dia membuka pintu depan dan langsung duduk di sebelahku. Kakiku terinjak. Aku berharap dia minta maaf, atau sedikit tersenyum, atau basa-basi. Tapi, dengan wajahnya yang dibuat-buat seram, dia tak bergeming sedikitpun. Ah, sombong sekali bapak polisi kita ini. Mungkin dia merasa lebih tinggi dan lebih penting dari orang sipil sepertiku. Atau dia merasa lebih tua dariku, jadi tak perlu minta maaf atau sedikit bersopan santun. Ah, bapak Polisi, bukannya seharusnya yang lebih tua memberi contoh yang baik pada kami yang masih muda-muda ini. Bukannya seharusnya Bapak menjadi pengayom dan pelindung masyarakat. Ya sudahlah, mudah-mudahan dia hanya sedang merasa kesal sehingga sulit baginya untuk tersenyum atau sedikit berbasa-basi. Mudah-mudahan tak semua polisi sepertinya. Jam 06.45, di dekat lampu merah pak polisi tadi turun. Kembali tanpa bilang terima kasih atau sedikit basa-basi. "Dasar keong! Memangnya mobil nenek moyangnya apa!", Si Abang mengumpat. Aku hanya tersenyum.
Jam 07.03, sampai aku di Cilandak. Sambil menyodorkan uang seribu limaratus rupiah, aku turun, "Santai aja Bang!", aku coba sedikit menghibur si Abang. Dia hanya mengangguk tanpa ekspresi.
Kopaja 20 jurusan Lebak Bulus-Senen telah menanti. Aku naik, tak ada tempat duduk kosong. Terpaksa berdiri, mudah-mudahan di depan nanti ada yang turun. Benar juga, di pertigaan Mangga Besar beberapa orang turun. Lumayan, dapat duduk di dekat pintu, sedikit kena angin, jadi tak terlalu panas. Tak berapa lama, bis berhenti, seorang bapak berpakaian rapi naik dan langsung duduk di sebelahku. Dari perawakannya, sepertinya dia seorang polisi atau tentara. Bis kembali jalan, di depan terlihat macet sekali, untunglah aku sudah mendapat tempat duduk. Menjelang tanjakan, bis berjalan agak sedikit menepi, kulihat sebuah motor tiba-tiba oleng dan jatuh di sebelah bis. Bis pun berhenti. Si Pengendara melepas helmnya dan langsung naik ke bis menghampiri supir. "Hey Monyet! Liat-liat dong kalo bawa kendaraan, jangan kau serempet orang sembarangan. Mana SIM loe, STNK? Gue Polisi!, mana cepat loe keluarin!". Si Abang terlihat ketakutan, tapi masih coba menjawab, "Pak, Saya tidak menyerempat Bapak, Bapak saya liat jatuh sendiri koq!". Si Pengendara motor tadi tambah naik pitam, "Berani loe ya ngelawan Petugas, mana sini cepat loe kasih SIM ama STNK loe!". Dengan pasrah, Si Abang pun membuka tas kecil di depannya dan memberikan surat-surat yang diminta. "Loe, ntar loe ambil surat-surat ini di Polsek, loe cari gue, Suparman!". Polisi itu pun turun, diikuti Si Abang. Di luar, terlihat mereka kembali bersitegang. Bapak-bapak yang duduk di sebelahku terlihat gusar. "Begitu tuh, Polisi jaman sekarang, kerjanya memeras rakyat kecil. Kecewa saya, kecewa saya!". Lama sekali Si Polisi dan Si Abang Sopir berdebat, aku mulai gusar juga. "Wah, ini tak bisa dibiarkan!", aku berujar kepada Si Bapak dan bermaksud turun dan mencoba membantu memecahkan masalah. Di belakang, suara klakson mobil mulai rame. Jalanan menjadi semakin macet. "Jangan!, Anda duduk aja di sini!", Si Bapak melarang aku untuk turun. Dia pun segera beranjak turun dan menghampiri mereka. Aku mengikutinya dari belakang. Dia langsung menghampiri Si Polisi tadi. "Hei, kamu! Sini kamu!", dengan nada tinggi dia memanggil Si Polisi. Dia mengambil dompet di sakunya dan mengeluarkan sesuatu. "Saya anggota TNI, saya Kolonel!", hardiknya sambil menunjukan kartu pengenal yang barusan diambil dari dompetnya. "Saya malu, saya malu dengan tingkah laku kamu! Saya lihat dengan mata kepala sendiri, motor kamu jatuh sendiri. Tak ada yang menyerempet!". Kulihat wajah Si Polisi langsung berubah, yang tadinya garang bagaikan singa gunung, sekarang terlihat ciut dan mendundukan kepalanya. Hahaha...ingin rasanya aku tertawa sekeras-kerasnya. "Saya malu, malu sekali. Kita ini seharusnya melindungi mereka, mereka rakyat kita!" Kembali Pak Kolonel menceramahi Si Polisi. "Ya Pak, Ya Pak!" Hanya kata-kata itu yang terdengar dari mulutnya. "Mana sini, KTP kamu, cepat! Atau mau saya tembak kamu! Kamu ini beraninya cuman sama rakyat kecil, kalo kamu berani hayo ikut saya ke Aceh! Di Aceh orang-orang seperti kamu lari terbirit-birit!". Pak Kolonel terlihat semakin marah. Selembar KTP disodorkan Si Polisi. "Kamu, kamu ambil nanti ini KTP di Marinir situ! Sekarang kamu pergi, cepat!". "Siap Pak!", Si Polisi terlihat semakin takut dan langsung menyalakan motornya pergi.
"Aduh, terima kasih sekali Pak, kalo tak ada Bapak saya nggak tahu nasib saya", ujar Si Abang sambil sedikit membungkuk. Surat-surat yang tadi disita, sekarang sudah kembali di tangannya. "Nanti kalo dia macam-macam lagi, bilang Saya!", ujar Pak Kolonel. "Ya Pak, terima kasih banyak Pak!".
Kamipun kembali melanjutkan perjalanan.

Di dekat POM Bensin ada seorang gadis naik. Tak cantik, tapi dandanannya yang mencolok sudah pasti menarik perhatin pria. Tak ada tempat duduk kosong, diapun berdiri di dekatku. Kulihat laki-laki yang tadi berdiri di dekatku, bergeser dan memberi tempat. Taruhan 1 Milyar, dia pasti mencoba berkenalan.
Benar juga, tak berapa lama:
"Mba, anak Perbannas ya?". Sejurus kata perkenalanpun dilontarkan.
"Ya mas!".
"Semester berapa? kenal Ria nggak?".
"Ria, Ria angkata berapa ya Mas?"
Aku yakin, si Mas tadi hanya mengarang cerita.
"Ria, Ria yang rumahnya di buncit situ, kalo nggak salah angkatan dua ribuan gitu."
"Wah, maaf mas, aku nggak kenal."
"Udah dapet mata kuliah Trading belum, yang kaya Forex, Bursa-bursa gitu?"
"Udah mas."
Mereka kembali terdiam. Kulihat, Si Mas sibuk membuka-buka tasnya dan buku agendanya. Pasti sedang mencari kartu nama. Benar juga, tak berapa lama dia sodorkan selembar kartu namanya.
"Mba, maaf sapa namanya? Ini kartu nama saya. Nanti kalo perlu apa-apa, skripsi misalnya, hubungi saya aja. Nomer HP nya ada di belakang!".
Aku tak mendengar nama yang diucapkan anak Perbannas tadi.
"Makasih ya Mas Joy!".
"Ya, jangan ragu-ragu ya. Saya mesti turun nih sekarang, I'll wait for your call!".
"Ya mas Joy, makasih banyak ya...".
Si Mas Joy pun turun sambil melambaikan tangannya.

Coba, tadi aku taruhan pasti aku sudah lebih kaya 1 Milyar. Satu Milyar, melihatnya pun aku belum pernah. Mungkin kalo ditumpuk sampai setinggi dua meter uang seratus ribuan. Satu Milyar, aku bisa melunasi kredit-kredit, membeli rumah, motor yang aku idam-idamkan. Mungkin mobil, tapi kasihan Jakarta sudah terlalu banyak mobil. Mungkin aku mentraktir teman-temanku.
Kalau mereka bertanya darimana aku dapat uang itu, mungkin aku akan menjawab, "Aku menemukannya di halaman rumahku pagi ini, mungkin Tuhan menjatuhkannya semalam. Ada secarik kertas di sampingnya, 'Untuk hamba-KU yang selalu mengingatku'". Ah, tapi sepertinya uang ini bukan untukku, aku bukan hamba-Nya yang selalu mengingat-Nya. Tapi biarlah aku ambil, nanti kalau Tuhan bertanya aku bilang saja, "Tuhan, aku pinjam dulu ya uangMu, nanti aku bayar dengan selalu mengingat-Mu, menjalankan segala perintah-Mu dan menjauhi segala larangan-Mu. Please, Tuhan!".
Sepertinya kejadian itu hampir pasti tak mungkin dan terlalu berat buatku untuk memenuhi janjiku kepada Tuhan, jadi mungkin lebih baik aku bilang kalau aku baru saja ikut kuis Who Wants To Be A Millionaire di sebuah stasiun TV dan menang Satu Milyar, jauh lebih banyak dari hadiah yang didapat salah seorang temanku.

"Hey teman, kapan hendak kau traktir awak..................?"

BeTe

Gue bingung mau ngomong apa ya.
Gue lagi BeTe, Jumat ini mesti berangkat lagi "keliling ASEAN". First stop, KLIA, ngerjain projek Makro sampe tanggal 8. Males sebenernya di KL, boss gue di sono suka "lupa" ngasih per diem. Oh ya, about per diem, cuman USD 12 man, hm...it's just not "enough" kalo di Malaysia deh. Waktu jaman keemasan dulu lumayan, USD 25. Hehe..pas gue argue ama bos gue minta paling gak USD 20, dia bilang apa coba, "He mas Topik, per diem itu bukan buat nabung Mas!". Wuek, sapa juga yg mau nabung, wong cuman mau nyisihin dikit buat beli oleh-oleh :)

Next stop, Bangkok, here I come, blom tahu tinggal di hotel yang mana, hotel yang kemaren enak juga sih, Citi Lodge, small but cozy, ada di pinggir jalan raya Sukhuvmit. Yang bikin BeTe cuman satu, kalo udah jam 9 malem, di sepanjang jalan, berkilauan "jajanan pasar", imagine, jauh dari bini for a long time, gak dapet "jatah". Masa mau nyari "jatah" di jalan he..he..tuakut boww!

Final destination, Manila. Hm...cuman satu yang gue demen di sini, wanita-wanita cantik cukup banyak di kantor. Well, at least gue bisa cuci mata dikit. Ada satu yang bikin gue "turned on", hm.. gue gak bisa nyebutin nama, just in case she happens to be reading this he..he.., yang jelas doi berbulu halus di sekujur tubuhnya (you must be wondering darimana gue tahu hehe). Ah, jadi puyeng gue ngomongin dia :))

Hm...ntar deh gue sambung lagi!

Pondering Adblocker

Is ad-blocker and popup blocker depriving website owners of their rightful income? Are short-selling them by doing so? Is it legal? Isn't it the same as say when your favourite magazine becomes too ad-oriented then you should just stop subscribing to the magazine? So we just stop browsing to website that have too many ads/popups rather than steal their income? Are we leeching?

Sunday, March 27

Bills, Bills, and more Bills

How about a $1600 cc bill 8-}

Easy now ... this will get even WORSE!! :D

Well, that's what you get when you want to fill your house with nice stuffs.

* King Koil mattresses - $2250
* Fisher Paykel washing machine - $750
* 500L Fisher Paykel fridge - $1500
* Wardrobe - $1600
* Dining table w/ 4 chairs - $800

Hooray for 0% installments!!

Wednesday, March 23

Budget Airline

Denger dari News 5 Tonight semalem: Pemerintah Indonesia melarang budget airline luar negeri mendarat di Jakarta, Surabaya, Denpasar, dan Medan.

This just keeps getting better ...

Tuesday, March 15

Mo Moni

Need money ...

RD-700sx out ... *GAAAAAAHHH*
Two full-fledge 88-key 704-multisamples piano ... *GAAAAAAHHH*

Need money ...

Monday, March 14

ke kantor naek mobil

Dalam setaon ini gue udah kecelakaan motor 3 (tiga) kali !!! Menurut gue sih biasa biasa aja namanya juga Pendekar Sadis Raja Jalanan, tapiiii ternyata mantan pacar gue gak suka gue kecelakaan terus (padahal terakhir kali gue kecelakaan, gue lagi parkir terus ditabrak motor betawi).
Akhir nya gue di ultimatum, 'Sebelum My Husband punya motor baru, My Husband kudu naek mobil ke kantor..!!!', jadilah gue ke kantor sekarang naek mobil, sesuatu yg selalu gue hindari selama bertahun2, macet bok..
Tapiii jadinya sekarang gue berangkat pagi 05.30 sampe kantor 06.30 pulang kantor 20.30 atau jam 16.30 tapi nongkrong dulu di Hanggar sampai jam 20.30. Cape juga, tapi yg paling penting, gue jadi gak punya waktu banyak buat keluarga gue terutama buat ber haha hihi dgn bini gue, whaw.. disalurkan kemana yah ??
ok.. end of first blog

fresh restart...

Invalid System Kernel Mode.
Memory Access Violation detected.
Error code:E003FA8 in line 345 of /bin/memory_protection.c

Please Restart the System...

.
.
.

Akhirnya setelah mati suri selama beberapa tahun, icph.or.id (or what's left of it) berusaha untuk kembali bangkit.
Dalam komanya, icph.or.id sudah mengalami beberapa perubahan nasib. Beberapa member sudah berubah status, sementara sisanya masih terus mencari.

But nevertheless, icph akan menyongsong abad 21 ini dengan penuh harapan. Harapan akan kehidupan yang lebih baik, tidak hanya bagi icph'ers tapi juga bagi seluruh mahluk Tuhan di alam semesta ini.

So there it is...
Tombol Reset sudah ditekan. Kernel sudah diload. System sudah booting kembali. Login Prompt sudah memanggil. Saatnya untuk memulai kembali!

icph.or.id
login as: _

yesterday while i was driving a company's car on jakarta merak toll road, i heard anggoro and phillips had a chat at the back

phillips: i like peter pan.. i wish to watch their concert late this month
anggoro: no need to go.. just wait on tv, their show will be on it
phillips: nooo... its different, anggoro
anggoro: no no... on tv, they'll sing the same songs.. wearing the same clothes
phillips: not the same as going to the concert thou
so i interrupted
me: i agree.. its very different, anggoro
anggoro: how come...
me: experiencing a music concert is more or less like fucking... whilst watching them singing on tv is like, well, watching a porno... hehe, don't you agree?
phillips laughed laudly while saying: not that i like the comparison, but it feels true thou
anggoro: i cant imagine
me: haha go get a girl, will ya
then lotsa giggling and laugh followed

off topic, i know.. but i cant resist to post